Senin, 21 Februari 2011

Tanya Jawab : Tentang Syirik

Pertanyaan : Apa itu syirik ? dan apa saja yang tergolong syirik?


Jawaban :

A. Arti Syirk

Syirik ( شَرك – يشرك – شرك ) ialah menyekutukan Allah I, baik dengan perkataan, perbuatan maupun sikap. Menyekutukan Allah I dengan perkataan dinamakan syirik qauli. Menyekutukan Allah I dengan perbuatan dinamakan syirik fi'li. Sedangkan menyekutukan Allah I dengan sikap dan perasaan dinamakan syirik Qalbi. Itulah pengertian syirik ditinjau dari segi alatnya.

Ditinjau dari segi lain, masih banyak bentuk syirik. Orang yang mempertuhankan selain Allah I secara terang-terangan dinamakan musyrik jalli, yang meyakini adanya tuhan selain Allah I tersembunyi masuk pada musyrik khaffy, dan yang membuat perantara kepada Allah I dinamakan musyrik idlafy. Yang menyembah selain Allah I juga musyrik akbar. Sedangkan yang beribadah kepada Allah I, tapi latar belakang dan tujuannya bukan karena Allah I, masuk pada kelompok syirkul-Ashghar.

Perbuatan musyrik disebut الشِّرك. Perbuatan syirk termasuk kezhaliman yang sangat besar, karena telah memposisikan Allah I sama dengan makhluq-Nya, maka dosanya tidak akan diampuni Allah I. Firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Qs.An-Nisaa (4):48)


B. Aneka Syirk ditinjau dari Caranya

a. Syirk Uluhiyah ialah:

شرك باللهِ بِأَفْعَالِ العبَادِ الَّتِي خَلَقَهُمْ لَهَا وَأوْجَدَهُمْ مِنْ أجْلِهَا

Menyekutukan Allah I dengan perbuatan hamba, padahal Allah I menciptakan untuk ibadah pada-Nya dan menjadikan hamba karena agar ibadah kepada-Nya.

b. Syirk Rububiyah

Ahli aqidah berpendapat bahwa tauhid rububiyah ialah:

شرك باللهِ بِأَفْعَالِهِ كَالْخَلْقِ وَالرِزْقِ وَالإِحْيَاءِ وَالإِمَاتَةِ وَالملكِ وَالتَدْبِيْرِ .

menyekutukan perbuatan Allah I dengan mempercayai adanya yang mengatur yang menciptakan, yang memberi rejeki, yang menghidupkan, yang mematikan, yang berkuasa mutlak yang mengatur segala makhluk selain-Nya.

c. Syirk Fil-Asma was-Shifah

Tauhidul-Asma was-Shifat ialah

أَلإِيْمَانُ بِغيرمَا وُرِدَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ وَصِفَاتِهِ الْعُلْي من تَحْرِيْفٍ وَتَعْطِيْلٍ وََ تَكْيِيْفٍ وَ تَأْوِيْلٍ وََ تَشْبِيْهٍ وََ تَمْثِيْلٍ .

percaya kepada apa yang tidak dijelaskan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah tentang asma Allah I dan sifat-sifat-Nya yang Maha Mulia dengan mengubah, penolakan, mempertanyakan bagaimana bentuknya, mencari-cari kesimpulan, tanpa penyerupaan perumpamaan.

Firman Allah I menandaskan:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَ هُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْر

Tiada suatu apa pun yang sama dengan Allah. Dialah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS As-Syura : 11)


C. Aneka Syirk ditinjau dari Bentuknya

Ditinjau dari aspek bentuknya, syirik itu terdiri dari Ashghar (kecil), dan akbar (besar). Syirik besar ialah melakukan penyembahan kepada selain Allah I, baik secara langsung, seperti menyembah patung atau pun tidak langsung, seperti membuat perantara. Syirik kecil ialah beribadah dan menyembah kepada Allah I tapi latar belakang dan tujuannya bukan untuk mencari ridla Allah I, seperti riya. Rasulullah r bersabda:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَ كَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْ كَهُ

Allah berfirman "Aku lebih kaya dari semua yang disekutukan, maka barangsiapa beramal sesuatu perbuatan yang dipersekutukan kepada yang lain, maka Aku tinggalkan ia dengan sekutunya. (Hr. Muslim dari Abi Hurairah, shahih Muslim, II h.2289)

Menurut hadits qudsi ini, Allah I tidak akan bisa dikalahkan bahkan tidak bisa ditandingi oleh apa pun. Jika ada manusia beramal bukan untuk mencari ridla Allah I, maka oleh Allah I tidak akan diberi pahala. Orang yang beramal seperti itu nilainya hanya dari para sekutunya, di sisi Allah I adalah sia-sia.


D. Aneka Syirk ditinjau dari Sifatnya

Ditinjau dari aspek sifatnya, syirik itu terdiri dari syirk jally, syirk khafy dan syirkidlafy.


(1) Syirk Jally ialah melakukan penyembahan kepada selain Allah I secara terang-terangan seperti yang dilakukan ayah nabi Ibrahim yang menyembah berhala, sehingga dipertanyakan anaknya:

أَ تَتَّخِذُوا أَصْنَامًا آلِهَةً إِ نِّيْ أَرَىكَ وَ قَوْمَكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ

Apakah engkau menjadikan berhala sebagai tuhan. Sungguh menurut pendapatku, engkau dan kaummu itu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al An’aam (6):74)


(2) Syirik Khaffy ialah melakukan penyembahan kepada selain Allah I dengan tersembunyi dalam hati. Orang yang melakukan demikian, mungkin saja lahiriyahnya ibadah kepada Allah I, shalat, zakat atau pun haji. Namun isi hatinya bukan untuk Allah I, melainkan untuk manusia atau kepentingan dunia. Ditinjau dari sifatnya, riya termasuk syirik Khaffy.


(3) Syirik Idlafi ialah membuat perantara kepada Allah I. Orang jahiliyah menjadikan berhala seperti latta dan uzza sebagai perantara dalam ibadah. Orang nashrani ada pula yang menjadikan Yesus sebagai juru selamat dan juru penyampai du'a. Kaum muslimin pun ada juga yang menjadikan para wali atau jin, malaikat sebagai perantara ke-pada Allah I. Membuat perantara kepada Allah I dalam du'a termasuk perbuatan syirik sebagaimana ditandaskan

و الَّذِيْن اتَّخَذُوْا مِنْ دُونِ اللهِ أوْلِياءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّ بُوْ نَا إِلَى اللهِ زُلْفَى

Orang musyrik itu berkata kami tidak menyembah berhala, melainkan hanya kami jadikan sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (QS. Az-Zumaar (39) : 3)

Menurut ayat ini orang yang menjadikan sesuatu sebagai perantara dalam pendekatan diri kepada Allah I termasuk golongan musyrik.



E. Aneka Syirk ditinjau dari Alat dan caranya

Ditinjau dari aspek alat dan tempatnya, syirik itu terdiri dari syirk fil-Aqwal, syirk fil-Af'al, dan syirik fil-Iradah wan-niyyah.

(1) Syirk fil Aqwal (dalam ucapan)

Yaitu mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak tepat diucapkan ditinjau dari kedudukan Allah I sebagai Tuhan. Contohnya antara lain bersumpah dengan menggunakan nama selain Allah I. Rasul r bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِشَيْ ءٍ دُوْنَ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

Barangsiapa yang bersumpah dengan sesuatu selain Allah, maka ia telah berbuat syirik. (Hr. Ahmad, Musnad ahmad, I h.47, yang dianggap shahih oleh Hakim dan Ibn Hibban).

Dalam kehidupan keluarga sering ditemukan syirik pada perkataan semacam ini, baik dalam sumpah atau dalam ucapan-ucapan tertentu.

(2) Syirk Fil-Af'al (perbuatan)

Yaitu melakukan suatu perbuatan yang seharusnya ditunjukkan kepada Allah I, tapi ditunjukkan kepada yang lain. Adapun ibadat yang harus dipusatkan kepada Allah I dan tidak boleh ditunjukkan kepada yang lain antara lain: gerakan seperti yang dilakukan dalam shalat, berdu'a, istighatsah, isti'adzah, nadzar, penyembelihan dan qurban. Perbuatan semacam ini harus ditunjukkan kepada Allah I. Jika ditunjukan kepada selain-Nya, maka termasuk perbuatan syirik fil-Af'al. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian masyarakat, padahal termasuk syirik fil-af'al antara lain sujud ke telapak kaki ibu dalam sungkem, mencuci telapak kaki orang tua kemudian meminum airnya. Cara yang demikian perlu dibersihkan dari keluarga muslim.

(3) Syirk Fin-Niyah wal-Iradah (tujuan dan kehendak)

Syirk fi al-Niyah wal-iradah ialah melakukan suatu perbuatan bukan dilatar belakangi ibadah. Ditinjau dari aspek ini, ria termasuk syirk fin-Niyyah.



F. Aneka Syirk ditinjau dari aspeknya

di simping dari sudut caranya, syrik juga dapat dilihat dari segi cabangnya seperti berikut.


(1) Tahayul dan khurafat,

Ditinjau dari aspek caranya, syirik yang harus dibersihkan itu adalah tahayul dan khurafat. Tahayul ialah kepercayaan kepada yang dighaibkan, padahal tidak bersumber pada apa yang diterangkan dalam al-Qur'an atau al-Sunnah. Kepercayaan yang termasuk tahayul antara lain seperti percaya pada adanya ruh orang mati bisa bangkit. Sedangkan khurafat ialah mengaitkan kejadian lahiriyah dengan unsur keghaiban. Contohnya antara lain terjadi gerhana dikaitkan dengan kelahiran atau kematian seseorang.


(2) Jibt dan thaghut,

Ditinjau dari aspek objek yang biasa dipertuhan musyrik, antara lain Jibt dan Thaghut. Allah I berfirman:

ألَمْ تَر إِلَى الَّذِيْنَ أُوْ تُوْا نَصِيْبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُوْنَ بِالْجِبْتِ وَ الطَّاغُوْتِ وَ يَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا

هاؤُلآءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا سَبِيْلاً

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang diberi bagaian dari kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mereka mengatakan kepada orang-orang kafir, bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (Qs.An-Nisaa (4) : 51)

Dengan nada bertanya, ayat ini mengecam orang yang telah menerima kitab tapi masih mempercayai jibt dan thaghut. Pertanyaan semacam ini berfungsi pelecehan terhadap orang yang dipertanyakan. Mengapa mereka telah menerima kitab sebagai petunjuk, masih saja percaya pada jibt dan thaghut.

Jibt ialah segala sesembahan selain Allah I, baik yang berbentuk barang seperti berhala ataupun yang dianggap ghaib seperti yang dilakukan pedukunan. Jimat, batu yang dikeramatkan, adalah termasuk jibt. Sedangkan thaghut ialah ajaran yang tidak bersumber pada wahyu Allah I. Ilmu-ilmu kebathinan yang tersebar di masyarakat kebanyakan tergolong pada thaghut. Sedangkan gurunya dijadikan jibt. Ilmu kebathinan itu pada garis besarnya digolongkan kepada dua golongan, yaitu ilmu putih dan ilmu hitam. Ilmu putih biasanya menggunakan ayat-ayat al-Qur'an untuk praktik sihir. Sedangkan ilmu hitam biasa menggunakan mantera yang bersumber pada bahasa khusus pedukunan, seperti 'jangjawokan', dan kejawen.

Ditinjau dari ilmu tauhid sebenarnya baik yang putih maupun yang hitam termasuk ajaran thaghut. Walaupun yang putih itu menggunakan kalimat-kalimat al-Qur'an, tapi cara penggunaannya tidak bersumber pada al-sunnah. Rasul r tidak mengajarkan ayat-ayat al-Qur'an untuk alat hidup. Yang diajarkan Rasulullah r adalah tentang bagaimana menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Orang yang mengaku beriman pada kitab, tapi masih percaya pada jibt dan thaghut, akan memikul akibat yang sangat berat. Firman Allah I menandaskan:

أُلَئِكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللهُ وَ مَنْ يَلْعَنِ اللهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيْرًا

Mereka itulah orang yang dikutuk Allah. Barang siapa yang dikutuk Allah, niscara kamu tidak akan memperoleh penolong baginya. (Qs.An-Nisaa (4) : 52)

Menurut ayat ini, akibat yang dipikul oleh orang yang mempercayai jibt danthaghut, adalah kutukan Allah I menimpanya. Sedangkan orang yang dikutuk Allah I tidak akan mendapat pertolongan dari siapa pun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar